Tanjakan Haliyan Ghubok: Medan Pertarungan Antara Si Optimis VS Si Pesimis
- account_circle Admin
- calendar_month Ming, 24 Agu 2025
- comment 0 komentar

Oleh: Ali Rukman
Lampung Barat, LambarXpose.com – Ada tanjakan yang tidak hanya menanjak tanah, tetapi juga menanjak batin: Tanjakan Haliyan Ghubok. Setiap lekuknya adalah ujian, setiap batu adalah pengingat, bahwa hidup senantiasa memaksa kita memilih—apakah menjadi si optimis yang berkeringat, atau si pesimis yang berisik.
Bagi anak-anak kecil yang berangkat sekolah dengan tas lusuh di punggung, tanjakan ini adalah gerbang masa depan.
Bagi petani yang menggiring cangkul di pundak, ia adalah jalan menuju ladang kehidupan.
Bagi orang sakit yang dipapah keluarganya, ia adalah jalan menuju harapan kesembuhan.
Namun, bagi kami, tanjakan ini bukan sekadar jalan. Ia adalah kitab kehidupan, dengan halaman yang ditulis bukan oleh tinta birokrat, melainkan oleh keringat rakyat.
Kami sering dicibir dengan julukan: sanak daghak, anak kebun, anak umbul. Kata-kata itu diucapkan dengan nada merendahkan, seakan kami tak punya martabat. Tetapi sesungguhnya, harga diri tidak tumbuh dari pangkat atau seragam. Ia lahir dari nyali untuk menantang jalan curam dengan bahu sendiri.
Kami sadar, menunggu negara hadir di tanjakan ini ibarat menunggu hujan di kemarau panjang. Janji pembangunan hanyalah mendung sebentar lalu lenyap ditiup angin. Proposal yang kami ajukan hanya menjadi arsip kusam di meja staf. Yang datang hanyalah upacara, spanduk warna-warni, dan pidato tentang kemajuan—tanpa jejak nyata di jalan kami.
Maka kami berhenti menunggu. Kami memilih bergerak.
Kami mengenakan baju lusuh yang berubah menjadi seragam kebesaran.
Kami menggenggam cangkul yang lebih jujur daripada baliho politik.
Kami mengandalkan sekop yang lebih setia daripada janji-janji manis pejabat.
Kami memang tak pernah menggunting pita peresmian. Tapi kami memotong keringat sendiri untuk menambal jalan yang selama ini diabaikan.
Hari ini, lihatlah hasilnya: Tanjakan Haliyan Ghubok sudah 99% rampung. Tidak ada papan proyek, tidak ada nama kontraktor, tidak ada foto pejabat tersenyum di bawah spanduk. Yang ada hanyalah rabat beton sederhana—lahir dari doa, tekad, dan gotong royong warga.
Kami ingat betul suara-suara sinis yang dulu bergaung:
“Kalau mobil bisa lewat sini, saya jalan terbalik!”
“Potong kuping saya kalau pekon Sukarami bisa ditembus kendaraan!”
“Bangun jalan swadaya? Sampai kiamat pun tidak mungkin!”
Awalnya, kata-kata itu menusuk hati. Tetapi lama-lama, ia hanya menjadi bahan tertawaan. Biarlah mereka memanggul kata-kata, sementara kami memanggul batu. Biarlah mereka menabur sinis, sementara kami menabur kerja.
Sejarah selalu berpihak pada keringat, bukan pada nyinyiran.
Sanak daghak memang anak kebun. Tetapi dari kebun inilah kopi harum dikirim ke kota. Dari kebun inilah sayuran segar sampai ke pasar. Dan kini, dari kebun inilah lahir jalan—jalan yang bukan sekadar tanah yang mengeras, melainkan jalan keyakinan bahwa optimisme rakyat selalu lebih kokoh daripada pesimisme siapa pun.
Jika jalan adalah simbol peradaban, maka kami telah membangun peradaban kami sendiri. Dengan tangan kasar yang penuh kapalan. Dengan baju lusuh yang ditembus peluh. Dengan semangat sederhana—tetapi sesungguhnya lebih agung daripada semua baliho yang berjajar di Liwa.
Kini, Tanjakan Haliyan Ghubok berdiri sebagai saksi bisu. Ia tahu siapa yang benar-benar bekerja, dan siapa yang hanya pandai berkata. Ia mencatat nama-nama yang berkeringat, dan melupakan suara-suara nyinyir yang sekadar lewat bersama angin.
Dan kelak, bila sejarah menoleh ke belakang, ia hanya akan menulis satu kalimat sederhana namun abadi:
Bahwa di Tanjakan Haliyan Ghubok, optimisme rakyatlah yang menang. (*)
- Penulis: Admin


